Menu Close

Begini Cara Kerja Vaksin Covid Melawan Virus Corona Varian Delta Yang Lebih Menular

Penataan tata laksana bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem dan prosedur kerja. [newline]Tanpa meninggalkan tugas utama pengawasan, BPOM berupaya memberikan dukungan kepada pelaku usaha untuk memperoleh kemudahan dalam usahanya yaitu dengan memberikan insentif, clearing home, dan pendampingan regulatory. Penilaian (pre-market evaluation) yang merupakan evaluasi produk sebelum memperoleh nomor izin edar dan akhirnya dapat diproduksi dan diedarkan kepada konsumen. Penilaian dilakukan terpusat, dimaksudkan agar produk yang memiliki izin edar berlaku secara nasional.

Ada lebih dari 50 jenis adenovirus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan dan pandai bergerak masuk untuk menyerang tubuh dengan berbagai cara. Vaksin Covid-19 bukan bekerja di dalam tubuh manusia sebagai obat, melainkan sebagai pendukung imun tubuh untuk melawan Covid-19 agar tidak terjadi gejala berat hingga akibat yang deadly Bola Online. Adapun suntikan vaksin lainnya, tes laboratorium dan dunia nyata menyimpulkan bahwa satu dosis vaksin apa pun hanya memberikan perlindungan terbatas terhadap varian Delta.

Semoga semua vaksin virus corona yang berada di tahap akhir uji klinis ke manusia membuahkan hasil yang baik. Pada jenis vaksin yang menggunakan salah satu bagian virus, harus dipastikan bahwa satu bagian itu bisa memberikan perlindungan dari penyakit yang disebabkan oleh keseluruhan virus tersebut. Kelebihannya, vaksin jenis ini bisa diberikan untuk orang-orang dengan sistem imun yang lemah dan kekebalan yang panjang durasinya sudah terbentuk dengan dua dosis saja. Sedangkan vaksin dengan metode virus inaktif, virus dimatikan dengan zat kimia. Dengan membunuh virus, tidak dimungkinkan replikasi dan tidak mungkin menyebabkan penyakit ketika disuntikkan dalam tubuh kita.

Infeksi buatan tersebut dilakukan untuk mencetuskan pembentukan antibodi terhadap jenis kuman yang spesifik. Dengan infeksi buatan, vaksinasi membantu sel imunitas mendeteksi, mempelajari, dan mengingat ciri khas suatu kuman, sebelum tubuh terpapar dengan kuman yang sebenarnya. Berbeda dengan infeksi alami, vaksinasi memberikan optimasi kekebalan tubuh tanpa menyebabkan penyakit dahulu.

Bila pandemi bisa berhenti, dampaknya adalah kehidupan akan kembali normal, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan banyak sektor lain yang selama pandemi terpukul. Tidak berbeda jauh dengan obat atau vaksin baru pada umumnya, pembuatan vaksin COVID-19 pun harus melalui berbagai penelitian dan tahap uji klinis yang membutuhkan waktu lama, bahkan hingga bertahun-tahun. Penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan efek vaksin COVID-19 dengan placebo. Vaksin akan masuk ke dalam sel-sel dalam tubuh dan mulai memproduksi duri-duri protein di sekeliling sel.

Ketika pada beberapa orang dilakukan Vaksinasi, mereka sangat mungkin terlindungi dari penyakit yang ditargetkan. Sel T pembantu yang diaktifkan melawan virus corona dapat menempel pada fragmen yang sama. Ia berkembang biak dan mengeluarkan antibodi yang memiliki bentuk yang sama dengan protein permukaannya. Sel B sebagai sel kekebalan lain mempunyai protein yang dapat menempel pada virus Corona. Jika cocok, Sel B akan berkembang biak dan menghasilkan antibodi untuk kekebalan tubuh.

Cara kerja vaksin covid

Keadaan ini memungkinkan seseorang terinfeksi virus COVID-19 sebelum atau setelah vaksinasi dan tetap terjangkit. Kejadian ini disebabkan vaksin belum memiliki waktu yang cukup untuk memberikan perlindungan. Untuk dapat mempelajari mengenai efek samping yang sangat jarang atau jangka panjang, dibutuhkan waktu untuk memberikan vaksinasi pada lebih banyak orang. Akan tetapi, pengawasan keamanan tetap dilakukan setelah vaksin melewati uji klinis dan digunakan pada masyarakat. Bila terdeteksi isu keamanan vaksin, akan dinilai apakah isu tersebut terkait vaksin atau tidak dan segera dilakukan tindakan yang sesuai.

Ada kemungkinan bahwa seseorang yang terpapar penyakit sebelum atau segera setelah vaksinasi dapat menjadi sakit. Penyakit tersebut tidak mungkin disebabkan oleh vaksin, melainkan dari terjadinya paparan lain. Hal ini dikarenakan vaksin belum memiliki cukup waktu untuk memberikan perlindungan. Maka dari itu, untuk mengurangi risiko paparan penyakit pada saat atau segera setelah vaksinasi, sebaiknya vaksinasi tidak dilakukan di fasilitas kesehatan yang tergabung melayani pengobatan pasien sakit. Pemerintah daerah dan masyarakat juga dituntut untuk ikut andil dan terlibat aktif dalam pelaksanaan pengawasan tersebut. Setiap orang direkomendasikan untuk menerima vaksin COVID-19, terutama mereka yang berada di kelompok berisiko tinggi seperti tenaga medis dan orang-orang dengan riwayat penyakit tertentu sehingga rentan terinfeksi.

Hal ini karena hampir semua vaksin ketika suntikan pertama belum dapat memberikan respon kekebalan tubuh yang maksimal sehingga membutuhkan dosis kedua untuk meningkatkan respon kekebalan tubuh menjadi lebih sempurna. Setiap uji klinis vaksin memiliki perbedaan desain penelitian, diantaranya lokasi dan kriteria partisipan. Kita tidak dapat membandingkan langsung angka efikasi antara vaksin satu dengan lainnya karena perbedaan desain penelitian dan komposisi populasi partisipan dari masing-masing penelitian uji klinis vaksin. Perbandingan hanya dapat dilakukan apabila uji klinis dirancang untuk membandingkan lebih dari satu jenis vaksin. WHO sendiri memberikan syarat minimal 50% sebagai ambang batas efikasi yang baik bagi seluruh vaksin termasuk vaksin COVID-19. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa seluruh vaksin COVID-19 yang ada saat ini sudah memenuhi syarat dari WHO, yaitu memiliki efikasi diatas 50%.